Minggu, 14 Agustus 2011

Homo Homini Socius dan Kebebasan Individual


Homo Homini Socius
Homo homini socius (Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini ) (http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Driyarkara), merupakan sebuah istilah yang di utarakan pada awalnya oleh seorang filsuf berlatar belakang ekonomi, Adam Smith. Inti dari pikiran ini adalah bahwa manusia akan butuh orang lain dalam hidupnya untuk berinteraksi. Dalam sebuah teori yang sangat sederhana, teori ini dapat dengan sederhana dibuktikan dengan kebutuhan manusia akan akurasi dan dipandang baik oleh orang lain (aronson, 2004). Dalam konteks ingin dipandang baik oleh orang lain, akan menjadi sorotan dalam homo homini socius dan kemudian, kebutuhan ini akan dijelaskan lebih lanjut dengan konsep self esteem atau yang diterjemahkan menjadi harga diri.
Kebutuhan akan harga diri pertama kali dijelaskan dalam hierarchy of needs, oleh Abraham Maslow (Schultz, D. 1976). Maslow membagi atas 2 bagian untuk kebutuhan akan harga diri ini, yaitu kebutuhan yang tergolong rendah dan tergolong tinggi. Yang tergolong rendah mencakup kebutuhan dihormati oleh orang lain, kebutuhan akan status, popularitas, kemenangan, dikenal, diperhatikan, reputasi, apresiasi, martabat, dan bahkan dominansi. sementara yang tergolong tinggi mencakup kebutuhan akan penghormatan terhadap diri sendiri oleh diri sendiri (self respect) seperti perasaan yakin, kepemilikan akan kompetensi, perolehan hasil, penguasaan akan suatu hal, kemandirian, dan kebebasan. Bentuk-bentuk ke dua disebut sebagai kebutuhan yang dikategorikan tinggi oleh Maslow karena ketika sudah memiliki self respect tersebut, maka seorang individu akan sulit terlepaskan itu semua.
Semua penjelasan-penjelasan tersebutlah, yang kemudian akan membuat seseorang membutuhkan orang lain, sebab untuk memperoleh harga diri tadi, maka manusia butuh orang lain untuk memberikannya. Hal ini bahkan dijelaskan oleh Erik Erikson, seorang psikolog psikodinamika, dalam teori fase-fase perkembangan manusia, psikososial, bahwa kebutuhan akan harga diri sudah dimunculkan sejak manusia masih bayi (santrock, J.W, 2006).
kebebasan Individual
namun terdapat suatu paradoks tersendiri dalam kebutuhan akan harga diri tersebut, yaitu ketika seorang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya ini, terdapat juga issue yang dikemukakan oleh Maslow bahwa manusia butuh mandiri dan bebas. Jika kita masih membutuhkan orang lain dalam membentuk harga diri kita, maka dimana letak kebebasan individual dalam bertingkah laku ?(Luijpen, W.A, 1969).
Seorang Psikolog Psikodinamika, Erich Fromm, dalam teorinya yang berjudul “Escape from freedom“, mencoba menjelaskan paradoks ini. Fromm menggunakan pendekatan dari dua sisi, yaitu bahwa manusia terbatas dalam hal biologis (menurut pandangan Freud) dan dalam hal aspek sosial (menurut pandangan Marx). Kedua pendekatan ini yang kemudian menjadi dasar, mengapa manusia bagaimanapun mencoba untuk lepas dari keterikatannya, tidak akan pernah bisa lepas secara mutlak, atau menurut Jean Paul sartre (filsuf dari Eropa) bahwa manusia itu ada sebagai faktisitas (terbatas dalam memilih) juga, selain sebagai eksistensialis (bebas dalam memilih).
Ada tiga saja, cara melepas diri dari keterikatan yang dilakukan manusia, yang dikemukakan oleh Fromm, yaitu authoritarianism (melepas diri dari kekuasaan orang lain dengan menjadi kekuasaan itu sendiri, atau menghindari dari kekuasaan yang dapat mengganggu dia), Destructiveness (membuat diri menjadi tidak ada sehingga tidak ada hal dapat diikat, atau menghancurkan pengikat diri), dan automaton conformity (menjadi sama dengan orang lain di bawah pengikat dirinya, sehingga tidak ada konfrontasi antara pengikat dengan diri sendiri).
Saran
Bagaimanapun manusia ingin mencoba hidup sendiri, dan tidak memikirkan orang lain, manusia akan tetap berada dalam kondisi dimana dia akan terikat dengan orang lain. Homo homini socius merupakan sebuah konsep yang telah terbukti dengan adaptasi teori psikologis yang menjelaskan bahwa bagaimanapun, manusia akan terikat dengan lingkungannya dan khususnya lingkungan sosialnya. Sehingga, bahkan manusia yang hanya sendiri hidup di hutan pun akan membutuhkan orang lain untuk membentuk harga dirinya, dan ini tidak dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Sehingga yang saya coba utarakan dalam penulisan kali ini adalah bahwa manusia akan selalu membutuhkan orang lain, dan tidak akan pernah bisa untuk hidup sendiri, meski telah hidup sendiri, dan dapat hidup sendiri. Keterikatannya dengan orang lain dalam bumi telah menjadi satu hal yang mutlak, secara biologis mungkin orang yang merasa dapat hidup sendirian saja dapat terbebas dari keterikatannya dengan orang lain dan merasa tetap bisa hidup, namun di sisi aspek psikologis, orang tersebut telah mati, dan tetap membutuhkan orang lain untuk membentuk harga dirinya agar aspek psikologisnya tetap hidup.
Referensi
Aronson, E., Wilson, T.D., Akert, R.M. 2004. Media and Research Update : Social Psychology, 4th ed. New Jersey : Prentice-Hall.
Luijpen, William A. . 1969. Existential Phenomenology revised edition. USA : Duquesne University.
Santrock, John W. 2006. Life-span Development. New York : McGraw-Hill
Schultz,D. 1976. Theories Of Personality. Wadsworth :California.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar